Monday, March 13, 2006

Antara Aku dan Dia, Serta Dia, dan Dia Seterusnya..

Pikirku sudahlah. Kenapa pula kerumitan harus dimenangkan. Terlalu banyak kisah. Antara Aku dan Dia, Serta Dia, dan Dia Seterusnya..Masih tak jua menemukan. Tapi takkan menyerah. Sampai pada saatnya. Takdir jua yang menyatukan. Atau memisahkan.

Angan melayang. Kembali. Lebih dari satu dekade silam. Dimana semua kepolosan. Masih mendominasi.

Kala itu dia tersenyum padaku. Senyum yang membuatku menjadi sesuatu. Seseorang yang punya arti. Imajiku menerawang jauh. Sebuah harapan tercipta. Sebuah titik awal. Keperjakaan hati pun terenggut. Dan akan terus membekas. Hingga kini.

Waktu pun berlalu. Ku 'meninggalkan' dirinya. Dia pun begitu. Sayang. Aku tak punya nyali tuk membuatnya menepi. Merasa belum punya arti. Meski enam tahun dilewati bersama. Tapi tak pernah bersama.

Lalu. Di sela waktu bersamanya. Dia datang. Dia lebih belia. Dia pula yang mengambil inisiatif. "Berani jujur tak ada salahnya," katanya. Kami sama-sama pemula. Belum mengerti arti cinta. Tak lama bersama. Pelabuhan pertama.

Tiga tahun berselang. Dia pun menawarkan cinta. Sayang. Indahnya belum sanggup meruntuhkanku. Ku berlalu sendiri.

Cukup lama menyendiri. Masih menanti yang telah mencuri hati. Aku pun bertemu Dia. Yang mengajarkanku banyak hal. Positif dan negatif. Aku pun meninggalkannya. Setelah setahun bersamanya.

Seiring berjalannya waktu. Ku pun bertemu dengan Dia. Dia merelakannya. Hanya tuk bersamaku. Pikirku ini yang terakhir. Kisah kami mengundang iri. Banyak yang menyusuri celah. Tak ada gading yang tak retak. Keadaan berkata lain. Kami tak kuasa. Akhirnya berpisah jalan. Empat tahun yang indah. Cukup untuk mendewasakan. Terima kasih

Dalam kesendirian. Dia pun menghampiri. Ku pun mencoba lagi. Kali ini tak jua berhasil. Bukannya dia tak berjuang. Hanya ku yang tak inginkan itu. Tak ada kesamaan tujuan. Maka ku pun berlalu darinya. Melukainya. Setelah setahun dia mempertahankan.

Kala berjumpa dengan Dia. Aku hanya persinggahannya. Ku pun berlaku sama. Tak jua berhasil. Tak ada kenangan. Waktu terlalu singkat.

Titikku mencapai terendah. Ku hanya melangkah mundur. Kala itu Dia datang. Dan ku pun pergi. Hanya seumur jagung.

Sesaat ku meninggalkannya. Sahabatnya mendatangi. Dia menawarkan diri. Tak sanggup kutepis. Cinta sesaat. Sedikit sesal.

Sebelumnya. Ada Dia juga yang menggoda. Terhanyut. Runtuh. Imajinya mengalahkan keindahan fisik. Juga tak lama berselang. Imajinya mengesampingkanku.

Aku juga sempat bersama Dia. Dia masih bersamanya. Putih mungkin lebih indah ketimbang kelabu. Lagi-lagi hanya seumur jagung.

Tak sengaja ku berjumpa dengannya. Dia menantangku tuk memilikinya. Aku pun terseret dalam permainannya. Aku pun dirundung masalah. Sampai akhirnya. Ku terlepas dari belenggunya. Nila setitik. Rusak susu sebelanga.

Aku pun berlari padanya. Awalnya. Dia menyambutku. Pikirku. Dia persinggahanku yang terakhir. Tapi. Baginya hanya sebuah shelter terminal. Dia belum merelakannya. Dia pun berlalu. Waktunya tak tepat. Sayang sekali. "Ku bisa menjadi apa saja. Tapi tidak menjadi dia."

Ku pun sendiri. Mencoba menghalau dia, dia, dan dia. Hati ini belumlah siap berpacu kembali.

Saat ku menemuinya. Dia datang menghampiri. Dia sedang bersamanya. Tapi menginginkanku. Begitu juga sebaliknya.

Satu dekade lebih telah berlalu. Hidup telah menempa. Kesalahan akan selalu menjadi dasar pijakan selanjutnya. Masih harus banyak belajar. Masih berjuang. Demi mempunyai arti.

Antara Aku, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia dan Dia. Dan mungkin Dia selanjutnya. Tak ada yang perlu disalahkan. Semua istimewa. Punya nuansa romansa berbeda. Dengan ciri masing-masing.

Baut akan selalu mencari mur yang tepat..
Hidup hanyalah pilihan..

Saturday Nite Phobia

As always. Like the other sat. All alone. All by myself. Haven't found one.

Yet...

Awan gelap. Kelabu. Belum juga berlalu dari malam minggu. Letih. Sendiri. Hilang. Separuh nafas.

Teman pun berguguran. Menunaikan misi pribadi.

Masih juga di kantor. Malam minggu.
"Get a life," kata seorang teman. "I'm trying," sahutku.

Bergerak. Tak jua dapat.
Wait and see. Tetap saja sendiri.

Susahnya. Mencari padanan.
"Terlalu pemilih," ketus sahabat. "Buat apa, kalau tak pasti," balasku.

Sebenarnya. Inginku. Bisikkan. Dengan penuh makna.
"..i love you..i will always do..until my dying day.."

So.. Come what may..
Sampai tak tersisa. Tak tersiksa. Dari belenggu. Fobia gila ini.