Berdialog dengan Tuhan
Seringkali saya bertanya, kenapa Tuhan menciptakan saya. Apa maksud dan tujuannya. Kenapa saya 'dititipkan' pada keluarga saya saat ini. Kenapa juga saya mesti berjuang untuk hidup. Kenapa pula saya harus merasakan cinta beserta kegagalannya. Kenapa seks pranikah itu dilarang. Tapi kenapa menikahi banyak wanita itu disahkan. Kenapa hanya boleh ini, dan kenapa tidak boleh itu. Kenapa, kenapa, dan selalu kenapa.
Beragam pertanyaan selalu muncul di benak saya ketika saya menemukan suatu pokok permasalahan yang membuat kening saya berkerut. Sepanjang perjalanan hidup yang Tuhan beri, di setiap kesempatan saya selalu bertanya kenapa, bahkan mengapa. Sekarang yang jadi pokok permasalahan saya adalah bagaimana untuk menjawab semua pertanyaan itu.
Seorang teman pernah mengatakan, "Tuhan hanya sebatas doa." Maka saya pun berdoa. Tentunya dengan versi kepercayaan saya sendiri.
"Tuhan, kenapa Engkau begitu jauh?" tanyaku. Dan dia pun menjawab, "Aku tak menjauh, kau-lah yang menjauh dari-Ku," jawabnya dalam sebuah kesempatan doa.
Mungkin ada benarnya jawaban dari-Nya. Bukan mungkin, tapi benar adanya. Siapa lagi yang bisa kau percayai perkataannya selain Dia. Tuhan itu quotable kok. Dia yang menciptakan kita, jadi buat apa Dia berbohong pada kita. Kalau pun Dia mau berbohong, itu sah-sah saja. Kita hanya ciptaan-Nya, kita hanya hamba sahaya. Lagipula, kalaupun dia ingin mencelakakan kita, mungkin sudah dari jauh hari Dia melakukannya. Atau lebih parah lagi, Dia tak perlu 'mengotori' tangan-Nya dengan menciptakan kita.
"Kun fayakun, maka terjadilah" begitu kutipan dari salah satu ayat Al-Quran *ayat suci Agama yang saya peluk* yang saya lupa di Surat berapa dan di ayat mana, kala Tuhan menghendaki sesuatu terjadi sesuai kehendak-Nya.
Maka saya pun termenung menghadapi realita ini. Memang benar adanya bahwa sebenarnya kita diciptakan hanya untuk menyembah Dia. Kita sebagai manusia harusnya bersyukur telah diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dibandingkan ciptaannya yang lain. Bayangkan saja, bahkan setan pun iri kala Tuhan memerintahnya untuk menyembah Adam, manusia pertama ciptaan-Nya.
Bagaimana tidak, Tuhan maha adil dan bijaksana dalam mencipta. Dia menciptakan Malaikat untuk patuh pada-Nya, tanpa dia diberi hawa nafsu. Tuhan pun menciptakan setan untuk membangkang segala perintah-Nya, dan dia diberi hawa nafsu. Dia juga menciptakan tumbuhan dan hewan yang tidak diberi akal serta pikiran, dan hanya hawa nafsu untuk bertahan hidup.
Sedangkan manusia, apa yang kurang dari ciptaan-Nya yang satu ini? Tidak ada satu pun. Dia menciptakan manusia dalam satu paket yang beragam. Manusia diberi akal, pikiran, hawa, nafsu, hati, serta panca indera lainnya. Dia pun menyeragamkan bentuk dan pemikiran manusia ciptaan-Nya pula. Bisa anda bayangkan apabila kita diciptakan dalam bentuk dan pikiran yang serupa.
"Dimana letak keindahannya? Dimana letak seninya? Bukankah perbedaan itu yang nantinya jadi tolak ukur atas penghargaan kita padaNya?" pikirku.
Lalu bagaimana kita menyikapi semua perbedaan yang Dia ciptakan? In my humble opinion, always look something or someone in their positive side. Lihatlah dari berbagai sisi, cobalah memposisikan dirimu dari berbagai sudut pandang.
Contohnya apabila anda memandang * hmm..apa ya benda yang sering kita lihat dalam kehidupan kita?* contohlah bungkus rokok. Dari salah satu sisi, apabila ditegakkan, anda akan melihat sebuah benda berbentuk persegi panjang dan berukuran sekitar 4x8 sentimeter. Di sisi lain, apabila ditidurkan, anda hanya akan melihat persegi panjang dengan ukuran sekitar 1x4 sentimeter.
Duh, rumit sekali sih pemikiran ini. Tapi itulah seninya. Kita akan terombang ambing dengan segala pertanyaan yang menjebak. Dan dikala tak ada satu pun yang bisa kita percayai dan dijadikan pegangan, hanya satu yang bisa kita percayai, Tuhan.
Saat ini pun saya terjebak pada sesuatu pertanyaan sederhana tapi cukup kompleks menurut saya. Salah satunya ialah, kenapa saya bisa menyukai lawan jenis saya? Saya bisa menyayanginya lebih dari saya menyayangi diri saya, bahkan saya memperlakukan dia sangat istimewa. Dan saya ingin menghabiskan sisa hidup saya bersamanya. Pada intinya, saya ingin menjadikan dia milik saya seorang.
Usaha saya untuk menyenangkannya lebih besar daripada tindakan konkrit saya untuk menyenangkan-Nya.
"Kecintaanmu terhadap lawan jenis seharusnya hanya sebatas bentuk kekaguman dan penghormatan terhadap mahakarya penciptamu," begitu jawaban yang saya dapati di batin saya kala berdialog dengan Tuhan sambil merenung di kamar mandi tadi malam.
Saya sangat bersalah. Saya pun merasa menjadi pendosa. Saya akui banyak dosa saya yang mungkin tak terampuni. Tapi menduakan-Nya, tak ada dosa yang lebih dosa daripada hal itu.
Akhirnya saya sadar, Tuhan selalu menunjukkan caranya yang tidak biasa. Dia tidak menjauh darimu. Dia selalu memandangmu dari sudut pandang-Nya yang tidak biasa pula. Dia akan 'menyentilmu' dari sisi yang tak terduga, tak terelakkan, dan kedekatannya amat mempengaruhi perasaanmu yang paling dalam. Betapa Tuhan amat menyayangiku.
Dia yang menciptakan, Dia pula yang membinasakan. Karena Dia-lah sang sumber dari segala sumber. Dari segala pertanyaan serta segala kejadian yang aku hadapi, akhirnya aku menarik kesimpulan. Itulah cara Dia agar aku mencari-Nya. Dia yang memberi pertanyaan dan Dia pula yang memberi jawaban.
Mungkin ada masa kita tidak mendapati jawaban yang kita inginkan. "Tuhan mendengar, dan Dia pun menjawab. Hanya saja, mungkin jawaban-Nya tidak," lagi-lagi batinku menjawab.
Segala yang kita lakukan, akan dimintai pertanggungjawaban.
Seperti pernah disenandungkan The Beatles, "And in the end, the love we take is equal to the love we make."
Manusia diciptakan untuk memilih. Hidup adalah pilihan. Itulah keindahan.. :)
Beragam pertanyaan selalu muncul di benak saya ketika saya menemukan suatu pokok permasalahan yang membuat kening saya berkerut. Sepanjang perjalanan hidup yang Tuhan beri, di setiap kesempatan saya selalu bertanya kenapa, bahkan mengapa. Sekarang yang jadi pokok permasalahan saya adalah bagaimana untuk menjawab semua pertanyaan itu.
Seorang teman pernah mengatakan, "Tuhan hanya sebatas doa." Maka saya pun berdoa. Tentunya dengan versi kepercayaan saya sendiri.
"Tuhan, kenapa Engkau begitu jauh?" tanyaku. Dan dia pun menjawab, "Aku tak menjauh, kau-lah yang menjauh dari-Ku," jawabnya dalam sebuah kesempatan doa.
Mungkin ada benarnya jawaban dari-Nya. Bukan mungkin, tapi benar adanya. Siapa lagi yang bisa kau percayai perkataannya selain Dia. Tuhan itu quotable kok. Dia yang menciptakan kita, jadi buat apa Dia berbohong pada kita. Kalau pun Dia mau berbohong, itu sah-sah saja. Kita hanya ciptaan-Nya, kita hanya hamba sahaya. Lagipula, kalaupun dia ingin mencelakakan kita, mungkin sudah dari jauh hari Dia melakukannya. Atau lebih parah lagi, Dia tak perlu 'mengotori' tangan-Nya dengan menciptakan kita.
"Kun fayakun, maka terjadilah" begitu kutipan dari salah satu ayat Al-Quran *ayat suci Agama yang saya peluk* yang saya lupa di Surat berapa dan di ayat mana, kala Tuhan menghendaki sesuatu terjadi sesuai kehendak-Nya.
Maka saya pun termenung menghadapi realita ini. Memang benar adanya bahwa sebenarnya kita diciptakan hanya untuk menyembah Dia. Kita sebagai manusia harusnya bersyukur telah diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dibandingkan ciptaannya yang lain. Bayangkan saja, bahkan setan pun iri kala Tuhan memerintahnya untuk menyembah Adam, manusia pertama ciptaan-Nya.
Bagaimana tidak, Tuhan maha adil dan bijaksana dalam mencipta. Dia menciptakan Malaikat untuk patuh pada-Nya, tanpa dia diberi hawa nafsu. Tuhan pun menciptakan setan untuk membangkang segala perintah-Nya, dan dia diberi hawa nafsu. Dia juga menciptakan tumbuhan dan hewan yang tidak diberi akal serta pikiran, dan hanya hawa nafsu untuk bertahan hidup.
Sedangkan manusia, apa yang kurang dari ciptaan-Nya yang satu ini? Tidak ada satu pun. Dia menciptakan manusia dalam satu paket yang beragam. Manusia diberi akal, pikiran, hawa, nafsu, hati, serta panca indera lainnya. Dia pun menyeragamkan bentuk dan pemikiran manusia ciptaan-Nya pula. Bisa anda bayangkan apabila kita diciptakan dalam bentuk dan pikiran yang serupa.
"Dimana letak keindahannya? Dimana letak seninya? Bukankah perbedaan itu yang nantinya jadi tolak ukur atas penghargaan kita padaNya?" pikirku.
Lalu bagaimana kita menyikapi semua perbedaan yang Dia ciptakan? In my humble opinion, always look something or someone in their positive side. Lihatlah dari berbagai sisi, cobalah memposisikan dirimu dari berbagai sudut pandang.
Contohnya apabila anda memandang * hmm..apa ya benda yang sering kita lihat dalam kehidupan kita?* contohlah bungkus rokok. Dari salah satu sisi, apabila ditegakkan, anda akan melihat sebuah benda berbentuk persegi panjang dan berukuran sekitar 4x8 sentimeter. Di sisi lain, apabila ditidurkan, anda hanya akan melihat persegi panjang dengan ukuran sekitar 1x4 sentimeter.
Duh, rumit sekali sih pemikiran ini. Tapi itulah seninya. Kita akan terombang ambing dengan segala pertanyaan yang menjebak. Dan dikala tak ada satu pun yang bisa kita percayai dan dijadikan pegangan, hanya satu yang bisa kita percayai, Tuhan.
Saat ini pun saya terjebak pada sesuatu pertanyaan sederhana tapi cukup kompleks menurut saya. Salah satunya ialah, kenapa saya bisa menyukai lawan jenis saya? Saya bisa menyayanginya lebih dari saya menyayangi diri saya, bahkan saya memperlakukan dia sangat istimewa. Dan saya ingin menghabiskan sisa hidup saya bersamanya. Pada intinya, saya ingin menjadikan dia milik saya seorang.
Usaha saya untuk menyenangkannya lebih besar daripada tindakan konkrit saya untuk menyenangkan-Nya.
"Kecintaanmu terhadap lawan jenis seharusnya hanya sebatas bentuk kekaguman dan penghormatan terhadap mahakarya penciptamu," begitu jawaban yang saya dapati di batin saya kala berdialog dengan Tuhan sambil merenung di kamar mandi tadi malam.
Saya sangat bersalah. Saya pun merasa menjadi pendosa. Saya akui banyak dosa saya yang mungkin tak terampuni. Tapi menduakan-Nya, tak ada dosa yang lebih dosa daripada hal itu.
Akhirnya saya sadar, Tuhan selalu menunjukkan caranya yang tidak biasa. Dia tidak menjauh darimu. Dia selalu memandangmu dari sudut pandang-Nya yang tidak biasa pula. Dia akan 'menyentilmu' dari sisi yang tak terduga, tak terelakkan, dan kedekatannya amat mempengaruhi perasaanmu yang paling dalam. Betapa Tuhan amat menyayangiku.
Dia yang menciptakan, Dia pula yang membinasakan. Karena Dia-lah sang sumber dari segala sumber. Dari segala pertanyaan serta segala kejadian yang aku hadapi, akhirnya aku menarik kesimpulan. Itulah cara Dia agar aku mencari-Nya. Dia yang memberi pertanyaan dan Dia pula yang memberi jawaban.
Mungkin ada masa kita tidak mendapati jawaban yang kita inginkan. "Tuhan mendengar, dan Dia pun menjawab. Hanya saja, mungkin jawaban-Nya tidak," lagi-lagi batinku menjawab.
Segala yang kita lakukan, akan dimintai pertanggungjawaban.
Seperti pernah disenandungkan The Beatles, "And in the end, the love we take is equal to the love we make."
Manusia diciptakan untuk memilih. Hidup adalah pilihan. Itulah keindahan.. :)

