Wednesday, February 01, 2006

Hijrah

Hijrah yang bisa diartikan juga dengan kata pindah. Lho..pindah dari apa?

Bertepatan dengan Tahun Baru Hijjriyah 1427 yang baru saja berlalu, banyak yang *mungkin* tidak kepikiran tentang makna atau esensi dari hijrah itu sendiri. Padahal, seruan itu sudah berlangsung selama 1427 tahun secara kalender Islam.

Kalau diartikan secara harfiah, hijrah itu memang diartikan dengan kata pindah. Bisa itu pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tapi yang namanya kata kunci, seperti di dalam Al Qur'an yang penuh dengan bait-bait indah, hijrah itu bisa jadi luas maknanya.

Semisal, seruan normatif untuk berbuat kebajikan bisa jadi salah satu maknanya. Tentu saja, berpindah dari perbuatan negatif ke perbuatan yang positif itu bisa diartikan dengan pindah, atau hijrah.

Saya pribadi juga sering khilaf melakukan banyak kesalahan dalam hidup. Meskipun terkadang saya tahu tentang teori dan seruan yang ada pada kata hijrah itu, kata-kata itu bagaikan masuk kuping kiri keluar kuping kanan.

Lalu apa yang bisa kita ambil dari kata sakti itu?

Hidup di dunia yang fana dan maya ini, menurut saya pribadi, terkadang perlu yang namanya batasan. Batasan itu bisa berupa apa saja, tergantung kemauan kita sendiri. Itu bisa 'diciptakan' oleh imagi kita sendiri. Lalu apa hubungannya antara batasan dengan hijrah?

Anda tentunya tak bisa pindah kalau tidak ada yang namanya batas. Itu sama saja anda bergerak di lingkup atau area yang sama saja. Mungkin Anda hanya berpindah koordinat, tapi anda tidak benar-benar berpindah.

Ok, kita cukupkan saja pembahasan mengenai batasan. Seperti saya bilang, Anda sendiri yang menentukan batasan. Lalu bagaimana dengan saya? Saya juga sedang mencari batasan itu sendiri.

Kembali ke hijrah. Apa yang bisa diambil dari hijrah itu sendiri dan bagaimana kita melakukannya? Banyak sekali caranya. Saya saat ini sepenuhnya sadar, kalau bukan kita sendiri yang mengubah atau mendorong diri kita, takkan ada yang berubah.

Terkadang memang ada kejadian yang menyebabkan hal itu terjadi. Semacam trigger. Hal itu saya rasa tidak hanya terjadi sekali di kehidupan saya, bahkan berulangkali. Tapi memang dasar bandel, saya selalu mengabaikan hal itu. Saya rasa saya tak perlu mempublikasikan apa yang menjadi trigger saya. Karena kalian pun pastinya punya trigger berdasarkan pengalaman masing-masing, bukan?

Perlahan, saya coba resapi makna dari tiap kejadian yang menimpa saya. Terjadi semacam deja vu. Saya akui, memang sulit untuk melakukan hijrah itu. Tapi setelah saya bisa melaluinya, meski baru pada tahap titian awal, saya akhirnya bisa tersenyum. Entah senyuman itu mengandung arti "betapa bodohnya saya", ataukah "akhirnya saya bisa melewati tahap itu". Tapi intinya saya bisa tersenyum, meski ada sebagian dari saya yang terluka.

Seperti saya kutip dari lagunya Dewa, "Hadapi dengan senyuman, semua yang terjadi, biar terjadi...Hadapi dengan tenang jiwa, semua kan baik-baik saja..." :)

Dari hijrah, akhirnya kita bisa pasrah. Setelah itu, menurut pengalaman saya pribadi, dengan pasrah saya bisa merasakan keikhlasan. Ada sesuatu yang terasa lebih dari rasa itu, memberi tanpa harus meminta kembali. Biarlah, biarkan yang berlalu tetap berlalu, tetaplah maju. Apalagi yang kita beri, meskipun *mungkin* bagi yang menerima hal itu 'tidak berarti', ataupun 'berarti tapi tidak terlalu berarti', atau juga 'berarti tapi dia tidak mau mengakui', tetap saja..ikhlaskan :)

Saya percaya, sesuatu yang diawali dengan niatan baik, suatu saat akan kembali dengan hal yang baik pula. Entah darimana balasan itu akan datang. Bisa darimana saja tanpa kita sadari, dengan syarat, ikhlas. Just give it and quickly forget it..very simple isn't it??

Anda bisa lihat, atau rasakan sendiri. Dari sekedar kata hijrah, bisa mewarnai hidup Anda secara keseluruhan. Tak peduli siapa pun Anda. Saya rasa semua orang berhak mendapatkan apa yang dinamakan kebahagiaan. Saya hanya sekedar ingin berbagi. Saya tak meminta kembali. Saya ingin Anda pun turut berbahagia, tentunya dengan cara yang Anda tentukan sendiri.

Ah indahnya, kebahagiaan saya ialah melihat orang di sekitar saya merasakan kebahagiaan. Believe me, tak ada yang lebih berarti dari pada kebahagiaan. Untuk yang satu ini, saya yakin tak ada satu pun alat tukar yang bisa membelinya. Kebahagiaan yang didapat dari memberi dengan ikhlas.

Saya ingin hijrah ke situ..saya sedang berjuang menuju ke sana.. :D