Friday, May 06, 2005

Hands Down

Breathe in for luck..breathe in so deep..
this air is blessed..you share with me..

This night is wild..so calm and dull..
these hearts they race..from self control..

Your legs are smooth..as they graze mine..
we're doing fine..we're doing nothing at all..

My hopes are so high, that your kiss might kill me..
So won't you kill me, so I die happy..
My heart is yours to fill or burst, to break or bury,or wear as jewelery..
which ever you prefer..

The words are hushed lets not get busted; just lay entwined here, undiscovered. :)
Safe in here from all the stupid questions,"Hey did you get some?"
Man, that is so dumb.

Stay quiet, stay near, stay close they can't hear...so we can get some. ;)

Hands down this is the best day I can ever remember,
I'll always remember the sound of the stereo, the dim of the soft lights,
the scent of your hair that you twirled in your fingers
and the time on the clock when we realized it's so late
and this walk that we shared together.

The streets were wet and the gate was locked so I jumped it, and I let you in.
And you stood at your door with your hands on my waist
and you kissed me like you meant it.

And I knew that you meant it,that you meant it, that you meant it,
and I knew, that you meant it, that you meant it.

So....

give me a kiss..
and to that kiss a score then to that twenty,
add a hundred more
A thousand to that hundred!

So Kiss on..
to make that thousand up a million
treble that million
and when that is done
let's kiss a fresh
as when we first begun.. :D

Ama me fideliter!

Ama me fideliter!
Fidem meam noto : De Corde totaliter!
Et ex mente tota,
Sum presentia liter...
absens in remota

"Bahkan Telanjang Bulat pun Masih Tetap Indah"

"...dengar Minke, darah mudamu ingin memiliki dia untuk dirimu sendiri, dan kau takut pada pendapat umum!"

Lambat-lambat ia tertawa.

"Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa harus dihormati dan diindahkan?"

Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu.

Ini dikutip dari TETRALOGI PULAU BURU buku 1 BUMI MANUSIA

"Dan untuk paras dan resam seindah itu rasanya tak diperlukan sesuatu perhiasan. Bahkan telanjang bulat pun masih akan tetap indah. Keindahan karunia dewa itu masih tetap lebih unggul daripada rekaan orang. Dengan segala perhiasan dari laut dan bumi ia kelihatan jadi orang asing. Sedang pakaian yang tiada biasa dikenakannya itu membikin gerak-geriknya menjadi seperti boneka kayu. Keluwesannya hilang. Segala yang ada padanya diliputi keseakanan. Tapi tak apalah, yang indah akan tetap indah. Hanya aku yang harus pandai menyingkirkan keberlebihannya."

PRAMOEDYA ANANTA TOER

Indonesia's leading prose writer and Asia's most likely candidate for the Nobel Prize, Pramoedya (pronounced Prah moo deeya) Ananta Toer was born amidst turbulent times in Indonesia.

Pramoedya's papers were taken from him and either destroyed or lost. Denied pen and paper, Pramoedya recited stories to his fellow inmates at night to boost their morale. Later, when he was given pen and paper, the other prisoners shouldered his chores so that he could put his stories on paper. He smuggled out his writings, which then became the Buru Tetralogy. Six other books were confiscated by the government and lost forever.

As ethnicity, religion, and class divide the nation, Pramoedya continues his fight, not only for the right to write freely, but also for the right to read freely. Having lost most of his strength due to his old age and poor health, he does not intend to write any more novels, but writes essays. Now that his books are no longer banned, shelves upon shelves of his books can be found in every bookstore and library in Indonesia.

Aku yang tak bersayap

Di malam ini mencekam, kala burung hantu bernyanyi merayu rembulan
Awan hitam berarak tutupi bintang-bintang
Lamunan jauh menerawang hingga kutersentak dan teteskan air mata kerinduan
Kuteringat....

Di malam itu mencekam, burung-burung hantu bernyanyi merayu rembulan
Bintang gemintang tertutup awan hitam
Kau buktikan ketulusanmu, bukan untaian kata belaka yang tak bermakna
Kau berkata dingin malam tak kan hapuskan cintamu
Kau berkata embun pagi tak kan tersibak langkahmu
Kau berkata, dan terus berkata
Hingga hembuskan napas panjang di tengah padang
Benarlah yang engkau ucapkan, bila memang sampai kapanpun tak mampu kau khianati

Air mata pertama kau jatuhkan di pipiku, harapkan kesadaranku
Air mata kedua kau jatuhkan di pipimu, bawa janji bersamamu
Memang kututup lembaran usang berdebu
Dan kubuka lembaran yang masih baru
Namun selama hatiku masih ada
Kau kan senantiasa abadi disana.

Aku berjalan ke arah matahari
Arak-arakan rama bagai larungan sampan di atas sungai
Styx yang merah. Dari puing-puing bekas Gereja, kulihat bangkai-bangkai awan
Seperti lembaran-lembaran langit yang dilimpahi arwah
Dan warna gerimis yang padam.
Tapi selalu gagal

Membaca aroma tanah, seperti letak "puting" susumu yang tegak bagai pilar-pilar bara dalam kobaran api

Atau pelukan sungai yang membawamu pada gerhana
Ada darah, bunyi-bunyi senapan seperti ledakan
Pada ambal yang payah. Dalam kegelapan
Yang mengubah dunia jadi Maut dan cahaya. Jadi ceceran ingus

Dari para pejalan yang kehilangan rumah dan peta-peta :
Oh engkaukah suara, gumpal-gumpal payudara yang melukis tahun
Dalam impian lazuardi dan sperma, dengan cuaca-cuaca
Yang tercekik dan tertahan pada laju taufan dan ombak, seperti rasa sedih

Atau bahasa-bahasa kangkung yang menjadi isyarat lain bagi perdu:
Semacam anyelir atau pikiran-pikiran yang beracun

Barangkali mataku terlampau cemburu pada sesuatu yang tak ada
Dan lewat letupan-letupan sayap yang menghisap kupu-kupu
Dan seratus kunang, seperti seratus kata sunyi yang terbakar kelamin
Atau aku yang terus berjalan ke arah matahari

Meski harapan hanyalah manik-manik yang menutup musim dan menjadi
Sebuah kerabunan bagi hening: padang, di mana Kristus dan Judas
Bertukar tangkap dalam sepi, ketika salju mencair
Dan seluruh bumi terangkat, seperti bayang-bayang orang suci, sebelum engkau
Tersadar dan aku menemukan jalan untuk kembali!

Karena matamu aku melihat cahaya nikmat
Yang tidak tampak lagi oleh mata sendiri
Dan waktu aku lumpuh kuberanikan hati
Memikul beban karna kuyakin kaki ku kuat

Aku yang tak bersayap oleh sayapmu lalu terangkat
Rohmu yg membukakan daku gerbang firdaus
Kau sanggup bikin pipiku merah nan pasi
Panas dimusim dingin kelu di tengah panas

Dalam kemauanmu bersemi kemauanku
Pikirku dadamu lah tempat asal usulnya
Dan nafasmu berhembus dalam tiap kataku

Nampaknya imbangan bulan gelisahlah aku
Yang nun jauh hanya tertangkap oleh mata sendiri
Tapi semasih surya merestuinya pastilah kemilau

Sekarat (Meregang Maut)

Ternyata aku seonggok daging
Yang kembang kempis dipompa cobaan hidup
setitik harapan kebahagiaan
tak kau percayakan lagi untuk aku memikulnya
lalu aku untuk apa?

Kadang aku terlalu banyak diam
Lalu kertaslah yang aku ributkan
Dengan keadaan jiwaku yang kosong
Atas kasihku yang tergadai dengan
Segala jenis keduniaan
Aku sudah terkulai bosan
Mengejar apa yang tak pasti
Cinta tak pasti
Angan-angan tak pasti
Hidup tak pasti
Mati pun kurasa tak pasti, mampu menghentikan
Seluruh denyut kembang kempis
Seonggok daging yang tak dihiraukan
Lalu aku untuk apa?

Aku marah kau sangka egois
Aku disini tak berdaya
Hanya tegukan demi tegukan
Yang hancurkan seluruh keringatku
Aku masih lelah
Ingin rasanya aku terbaring dipangkuanmu
Lalu tertidur lelap dalam belaianmu
Kalau memang cinta perlu pengorbanan
Terus apa yang menjadi pengorbanan kita
Untuk sebuah cinta yang pernah kita bina

Aku disini gelisah
Seandainya cinta itu hadir lagi dihatiku
Pasti kubakar semua kenangan buruk
Tapi tetap aku masih gelisah
Adakah seorang insan masih cinta
Mampukan ia menyambung rasa cinta
sementara masing-masing kita tak dapat lagi
berkata dan berfikir dengan cinta
kala noda malam terhapus
diterjang petir penderitaan
siapakah kita?

Menuai cinta dimawar berduri
Engkau jauh menyulam cinta
Benang-benang kasih kusut masai
Terbelit dan melilit
Menjadi gumpalan tak berbentuk
Laksana embun yang ke surga
Kala mentari menemani bumi
Bahteraku tak pasti
Sulaman mu tercabik-cabik duri mawar
Semuanya jatuh dipangkuan bumi
Lalu mengalir tak punya arah

Aku tak perlu bergoyang
Sebab bumi ku sendiri berguncang
Dalam kehausan kereguk air keimanan
Yang kau kirim lewat doa di ujung malam
Tak ku tahu arti kehilangan
Dalam goncangan yang menggoyang
Aku hilang bersama jiwa dan ragaku
Mampukan cinta mengabadikan semua

Kala aku terbaring
Mata ku memejam, penuh terlihat
Semua yang pernah ada
Jemari ku berontak ingin mencoret
Semua yang ada dihati
Cerita ku diambang subuh
Penuh gejolak
Tapi ia juga hilang bersama embun yang naik ke surga


Jadi..

Apakah hidup ini?
Apakah hanya corat-coret tak bermakna
Atau hanya makna hakikat
Yang tak terbaca

Jadi..
Siapakah aku ini?

Masihkah seonggok daging
Yang kembang kempis oleh kehidupan?
Hidup itu tak pernah berkata
Tapi banyak manusia yang berbicara
Kebenaran susah sekali diikuti
Dan kemaksiatan terlalu banyak menggantung
Menjadi hiasan pilar-pilar hidup yang selalu goyah