Monday, July 03, 2006

What a Man Gotta Do is a Man Gotta Do

There are so many things that i couldn't understand in this short term of life. Time's running out and won't stop it even for a while. With only two legs, i should keep my pace faster or i'll be left behind.

And the path of life that u've been choose will never be as smooth as u thought before. There always be some obstacles that would make u keep away from the track u've been planned. Eventhough u've been several way die trying. It's inevitable.

When suddenly, all the thing that u've been build, slowly decay in to pieces. Dreams, hopes, futures, it's all inevitably turn in to something unplanned or misdirection.

Well, what i'm trying to say is, it's never gonna be easy when u have to carry on ur life with so many things undone in ur past, and of course, in present time. Now i'm dealing with so many things that would make my pace tardy and left some dashing thing behind.

First thing first. What a man gotta do is a man gotta do..

Tuesday, April 11, 2006

Hanya Ingin Nikmati Hidup Ini

"Hhhhhhaaaaaaaahhhhhhhh....fiuuuuuuuuuhhhhhh...." kuhela nafasku yang berat untuk kesekian kalinya. Entah sudah berapa lama ku duduk terpaku di depan komputerku. Tak terasa sudah puluhan batang rokok kubakar tanpa henti. Kuhisap dalam-dalam dan kuhembuskan lagi. Berulang-ulang.

Rasa jenuh, letih, lelah menyelimutiku malam itu. Gundah, mungkin itu tepatnya yang kurasakan. Ku duduk di situ, tapi tak benar-benar di situ. Pikiranku mengembara entah kemana. Dan serasa tak ingin pulang.

Sudah hampir setahun diriku berkecimpung di dunia yang sama sekali baru untukku. Bidang kerja yang kugeluti sekarang memang sangat membutuhkan kecepatan, ketepatan, akurasi, dan nalar yang cukup tinggi. Perlu berpikir dan bertindak cepat. Serta perlu ketahanan fisik dan mental yang tinggi.

Belakangan, entah apa yang berkecamuk di dalam pikiranku. Semua menjadi samar, tidak fokus. Gila, pekerjaanku membuatku serasa robot. Bukan manusia. Dan sadisnya, di saat kutertidur dan bermimpi, yang kulakukan di dalamnya ya aku yang sedang bekerja, tetap bekerja, dan terus bekerja.

Aku benar-benar menenggelamkan diri dalam pekerjaan. *Mungkin ingin melupakan sesuatu yang sulit 'tuk kulupakan*. Hmm sudahlah..*toh Dia juga tak peduli..*

Aahhhh..seharusnya di alam mimpiku, aku bisa bebas mengembara dan mengekspresikan hal yang terliar yang tak mungkin kulakukan di alam nyata. "Sial!" makiku dalam hati.

Ya, aku benar-benar sial. Apes. Tapi, Tuhan masih sayang sama diriku. Dia berikan sedikit musibah agar aku bisa beristirahat :). Dia membuatku terjatuh dari motor pinjaman seorang teman. *Hehehe..sorry ya Mas Taufik :D* Rekanku dari Republika meminjamkanku motornya karena Dia sedang terburu-buru ke Puncak demi menghadiri sebuah liputan. Berhubung kantornya dekat dengan kantorku, ya aku lah yang 'ditodongnya' untuk menjaga motornya :D (meskipun akhirnya gagal...).

Sore itu, dengan pikiran yang masih belum pulang mengembara, kupacu motor dengan kecepatan tinggi (sekitar 80km/jam). Seingatku aku sedang berada di tikungan di dekat kantor. Tiba-tiba, aku sudah mendapati diriku terbaring di aspal dengan darah berlumuran di tangan, leher, dagu dan pipiku. "Astaghifrullahal'adzim," cuma itu yang bisa kusebut kala itu.

Dengan sisa tenaga, kuangkat tanganku untuk meminta pertolongan orang. Ternyata beberapa detik yang lalu, aku baru saja 'bercinta' dengan aspal dan trotoar. Gila, ciumannya dahsyat banget... :)) Sungguh, daku tak ingat sebabnya kenapa motor bisa guling-gulingan hingga naik ke trotoar pembatas jalan. Entah disenggol motor dari belakang juga, atau emang dakunya saja yang meleng. Entahlah...

Dengan bantuan orang-orang tersebut, akhirnya ku sampai juga di kantor. Tiba-tiba, kaki ini serasa tak kuat lagi menopang tubuh. Ku pun terjerembab mencium aspal, lagi. Sialnya, di saat seperti itu pun, aku masih mengingat kerjaan. Aku belum nulis berita. Belum lagi motor yang kuhancurkan itu, dan laptop review-an yang ada di tasku. "Mati aku!" begitu pikirku saat itu.

Akhirnya ku pun singgah sejenak di rumah sakit terdekat setelah kawan-kawan kantor menggotongku kesana. "Alhamdulillah, nggak ada yang patah," pikirku setelah menerima hasil rontgen. Cuma bahuku rada geser sedikit gara-gara nahan motor biar nggak mental. "Tulangnya nggak patah kok, cuma Sinus kamu saja yang sudah besar tuh," kata Dokter. Waduh, kok malah Sinus? Masa' bodo' ah..

Setibanya di rumah, seperti biasa Mamiku tercinta selalu histeris mendapati anaknya yang paling bandel ini tiba dengan keadaan yang rada memilukan. Tapi, itu tidak berlangsung lama kok. "Alah sudah biasa kok," mungkin begitu pikirnya. *hehehe* Mungkin Dia sudah bosan melihat anaknya pulang dengan keadaan seperti itu. Sorry Ma..hahahaha....

Cuti seminggu pun kudapatkan. Kawan pun silih berganti datang menjengukku. Telpon dan SMS pun tak henti-hentinya berdering. Dan yang pasti, akhirnya kubisa juga berlama-lama di kamarku yang kayak kapal pecah ini, meski akhirnya cuma bertahan dua hari saja. Lalu sisanya? Dunia masih terlalu indah bila hanya dinikmati dari kamarku saja. Coffee Shop di bilangan Sarinah sudah bisa mencium bau badanku tak lama setelah kejadian itu. Kawan-kawan kesayangan sudah bisa mencela diriku lagi. Wajah mereka terlihat puas sekali melihat keadaanku. Ini pertama kalinya mereka bisa mencela tanpa mendapatkan balasan yang lebih mengerikan dariku. Hihihi...

"Dasar anak badung!" maki Mami tercinta setelah mendapatiku keluyuran dengan perban masih melekat di wajah dan leher. Tapi, ya seperti biasa. Ocehannya hanya beberapa menit saja. Dia memang paling mengerti anaknya yang badung ini kok. Dia tahu anaknya ini sudah seharusnya bisa menikmati hidup. Lagipula, Dia tahu kok banyak orang-orang di sekelilingku yang akan menjagaku. Ada banyak sobatku tercinta. Bahkan, Dia yang jauh di sana pun, sampai bela-belain datang untuk menjengukku. Duh senangnya.. :)

Ya, Tuhan pun marah melihatku seperti itu. Dia pun ingin aku menikmati hidup. Dengan lembaran baru ini, aku akan lebih menghargai lagi segala pemberiannya. Mencoba meresapi esensi hidup ini. Mungkin Tuhan cuma ingin bilang, "Pekerjaan hanya sebagai pelengkap hidup saja. Kamu bekerja untuk bertahan hidup, tapi bukan menghabiskan hidup untuk bekerja saja."

Ya apa pun itu, apa pun yang akan terjadi selanjutnya, kuikhlaskan semua demi bisa menikmati hidup. Khususnya dengan orang-orang yang kucintai dan mencintaiku. Toh hidup cuma sekali ini saja kok. Ya, nikmati saja... :)


PS : *Duh capeknya habis keluyuran ke Bandung bareng Shantiand Akmal. Sempet mampir ke tempat Bunda Endhoot dan si jangkung Joan. Tapi sayang nggak dikasih makan. Hiks... Mana si Qudys Blubuk di is-im-is-in kagak dibales-bales. Huh..syebel... :p *

Saturday, March 18, 2006

Resapi Saja..Nikmati Saja..

"..and you can tell everybody this is your song..it may be quite simple but now that it's done..i hope you don't mind..i hope you don't mind that i put down in words..how wonderful life is while you're in the world.." (Elton John - Your Song)

Dalam beberapa bulan ini, lirik yang disenandungkan oleh penyanyi nyentrik asal Inggris itu seringkali menemani hari-hariku. Jatuh cinta atau tidak, penggalan lirik itu tetap saja mengalun dalam gumamanku. Namun, seperti biasa, mereka kerap menduga aku sedang dirundung cinta, lagi.

"Mengapa kau selalu mengagung-agungkan wanita?" tanya seorang sahabat. "Sadarkah kau, harga dirimu itu sudah terlalu sering diinjak-injak mereka!" tambahnya dengan ketus. Jengkel melihat kelakuanku.

Simpel saja, jawabku. Aku amat sangat menghargai sosok manusia yang telah melahirkanku dengan susah payah. Yang menghadirkanku dengan darahnya. Sebuah pertarungan dengan nyawa sebagai taruhan. Dan itu tidak main-main!

Lagipula, apa salahnya diinjak-injak wanita. Toh, bukankah surga memang ada di telapak kaki wanita kan, ya ibumu sendiri. Lagian, memangnya berapa sih harga dirimu? Dengan apa menakarnya? Dalam rupiah atau dolar? Apakah dengan begitu kau merasa lebih baik dari mereka?

Ku pun menghiraukan pertikaian yang tak jelas ujung pangkal dan tak akan ada habisnya. Sejenak, bait-bait indah yang sudah terlalu lama tak kudengar, melintasi di dalam benak. Termenung dibuatnya..

Woman

woman was creted from the ribs of a man
not from his head to be above him
not from his feet to be walk upon him

but from his side to be equal
near to his arm to be protected
and close to his heart to be loved


Wanita dicipta dari tulang rusuk pria. Bukan dari kepala. Bukan pula dari kaki. Tapi dekat dengan hati. Agar setara. Sejajar. Hanya untuk dicintai..dan mencintai..

Resapi saja. Nikmati saja. Tak perlu meminta lebih...

Wednesday, March 15, 2006

Aku Melihatnya, Lagi..

Siang itu kumelihatnya berdiri di keramaian. Dia begitu cantik dengan setelan biru langitnya. Kurasa, apapun yang dikenakannya, takkan memudarkan keindahan dirinya.

Ya.. aku melihatnya lagi..

Untuk kedua kalinya diriku berjumpa dengannya. Kala itu, sebelumnya, malam itu, dia bak bidadari dengan gaun hitam yang menjuntai menyapu tanah. Rambutnya terurai. Hitam kemilauan. Bagaikan bintang, yang selalu dikerumuni cahaya. Tak jua kumenemukan kata yang tepat 'tuk menggambarkan keanggunannya.

Tuhan memang seniman terhebat..

Sesuatu melukai dirinya, kala itu. Bahkan kepedihan di matanya tak sanggup melunturkan keindahannya. Ia tetap menawan, meski berurai air mata. Ini kesempatanku, pikirku. Ku pun dengan sigap, segera mengambil tindakan.

Kutawarkan dirinya penawar luka. Matanya pun kembali bersinar. Tak ada kata. Mata kami sudah berbicara. Itu sudah lebih dari cukup. Ku pun berlalu darinya. Meninggalkannya termangu.

Sungguh. Meski ingin. Tapi ku tak ingin. Sungguh ku tak ingin merusak momen indah itu. Kali ini ku tak ingin berkata. Tak ingin berbicara. Meski pun ingin. Mataku dan matanya sudah berbicara. Seakan kami memang tercipta. Untuk bicara. Melalui hati. Dengan mata sebagai perantara.

Tak ada perkenalan. Tak perlu berterimakasih. Kami sama-sama mengerti.

Siang itu. Deja vu. Mata kami tak sengaja bertubrukan. Bertatapan, kembali. Saat itu, kami saling menunaikan tugas masing-masing. Dengan kesibukan masing-masing. Ternyata sudah sedari tadi, dia memperhatikanku. Ah, kau begitu indah. Mata kami saling berbicara, kembali.

Tak ada perkenalan. Tak perlu berterimakasih. Kami sama-sama mengerti.

Mata kami pun berbicara, lagi. Itu saja sudah lebih dari cukup. Ku pun berlalu darinya. Meninggalkannya termangu, kembali.

Akankah mata kami, kelak berbicara lagi. Tahukah dirimu, ku pun menantikan saat-saat itu. Ah, mata itu...

Monday, March 13, 2006

Antara Aku dan Dia, Serta Dia, dan Dia Seterusnya..

Pikirku sudahlah. Kenapa pula kerumitan harus dimenangkan. Terlalu banyak kisah. Antara Aku dan Dia, Serta Dia, dan Dia Seterusnya..Masih tak jua menemukan. Tapi takkan menyerah. Sampai pada saatnya. Takdir jua yang menyatukan. Atau memisahkan.

Angan melayang. Kembali. Lebih dari satu dekade silam. Dimana semua kepolosan. Masih mendominasi.

Kala itu dia tersenyum padaku. Senyum yang membuatku menjadi sesuatu. Seseorang yang punya arti. Imajiku menerawang jauh. Sebuah harapan tercipta. Sebuah titik awal. Keperjakaan hati pun terenggut. Dan akan terus membekas. Hingga kini.

Waktu pun berlalu. Ku 'meninggalkan' dirinya. Dia pun begitu. Sayang. Aku tak punya nyali tuk membuatnya menepi. Merasa belum punya arti. Meski enam tahun dilewati bersama. Tapi tak pernah bersama.

Lalu. Di sela waktu bersamanya. Dia datang. Dia lebih belia. Dia pula yang mengambil inisiatif. "Berani jujur tak ada salahnya," katanya. Kami sama-sama pemula. Belum mengerti arti cinta. Tak lama bersama. Pelabuhan pertama.

Tiga tahun berselang. Dia pun menawarkan cinta. Sayang. Indahnya belum sanggup meruntuhkanku. Ku berlalu sendiri.

Cukup lama menyendiri. Masih menanti yang telah mencuri hati. Aku pun bertemu Dia. Yang mengajarkanku banyak hal. Positif dan negatif. Aku pun meninggalkannya. Setelah setahun bersamanya.

Seiring berjalannya waktu. Ku pun bertemu dengan Dia. Dia merelakannya. Hanya tuk bersamaku. Pikirku ini yang terakhir. Kisah kami mengundang iri. Banyak yang menyusuri celah. Tak ada gading yang tak retak. Keadaan berkata lain. Kami tak kuasa. Akhirnya berpisah jalan. Empat tahun yang indah. Cukup untuk mendewasakan. Terima kasih

Dalam kesendirian. Dia pun menghampiri. Ku pun mencoba lagi. Kali ini tak jua berhasil. Bukannya dia tak berjuang. Hanya ku yang tak inginkan itu. Tak ada kesamaan tujuan. Maka ku pun berlalu darinya. Melukainya. Setelah setahun dia mempertahankan.

Kala berjumpa dengan Dia. Aku hanya persinggahannya. Ku pun berlaku sama. Tak jua berhasil. Tak ada kenangan. Waktu terlalu singkat.

Titikku mencapai terendah. Ku hanya melangkah mundur. Kala itu Dia datang. Dan ku pun pergi. Hanya seumur jagung.

Sesaat ku meninggalkannya. Sahabatnya mendatangi. Dia menawarkan diri. Tak sanggup kutepis. Cinta sesaat. Sedikit sesal.

Sebelumnya. Ada Dia juga yang menggoda. Terhanyut. Runtuh. Imajinya mengalahkan keindahan fisik. Juga tak lama berselang. Imajinya mengesampingkanku.

Aku juga sempat bersama Dia. Dia masih bersamanya. Putih mungkin lebih indah ketimbang kelabu. Lagi-lagi hanya seumur jagung.

Tak sengaja ku berjumpa dengannya. Dia menantangku tuk memilikinya. Aku pun terseret dalam permainannya. Aku pun dirundung masalah. Sampai akhirnya. Ku terlepas dari belenggunya. Nila setitik. Rusak susu sebelanga.

Aku pun berlari padanya. Awalnya. Dia menyambutku. Pikirku. Dia persinggahanku yang terakhir. Tapi. Baginya hanya sebuah shelter terminal. Dia belum merelakannya. Dia pun berlalu. Waktunya tak tepat. Sayang sekali. "Ku bisa menjadi apa saja. Tapi tidak menjadi dia."

Ku pun sendiri. Mencoba menghalau dia, dia, dan dia. Hati ini belumlah siap berpacu kembali.

Saat ku menemuinya. Dia datang menghampiri. Dia sedang bersamanya. Tapi menginginkanku. Begitu juga sebaliknya.

Satu dekade lebih telah berlalu. Hidup telah menempa. Kesalahan akan selalu menjadi dasar pijakan selanjutnya. Masih harus banyak belajar. Masih berjuang. Demi mempunyai arti.

Antara Aku, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia, Dia dan Dia. Dan mungkin Dia selanjutnya. Tak ada yang perlu disalahkan. Semua istimewa. Punya nuansa romansa berbeda. Dengan ciri masing-masing.

Baut akan selalu mencari mur yang tepat..
Hidup hanyalah pilihan..